Kampung Berdasarkan Nama Orang Juni 3, 2008
Posted by antokida in Pemukiman.add a comment
Beberapa nama tempat di Jakarta yang merupakan nama orang, nama-nama tempat itu antara lain :
- Kawasan Petojo merupakan daerah tempat tinggal utusan Raja Bone, Aru Palaka, yang bernama Datu Patojo. Ia diutus ke Batavia untuk minta bantuan VOC menghadapi serangan Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan.
- Pada tahun 1709, seorang Bali yang bernama Gusti Ketut Badudu yang berjasa kepada kompeni dalam peperangan di Makassar, dihadiahkan areal permukiman yang hingga kini dikenal dengan nama Kampung Gusti di dekat kawasan Angke.
- Setelah VOC bubar pada tahun 1779, sejumlah pribumi yang berjasa kepada kompeni Belanda diberi areal tanah. Daeng Menteng dari Bugis diberi tanah yang kini menjadi kawasan elit Menteng. I Gusti Bayur asal Bali beroleh tanah di kawasan yang kini bernama Kebayoran. Dan Encik Awang memperoleh wilayah yang kini disebut Cawang.
- Daerah yang dikenal sebagai Jatinegara dam masih juga disebut sebagai daerah Mester, dulu merupakan kebun milik Cornelis Senen, seorang kaya terkemuka dari Telamon, Pulau Lontor, Banda yang dibelinya tahun 1656. Lama kelamaan penduduk pribumi Batavia menyebut daerah milik Meester Cornelis ini cuma dengan sebutan Mester.
Glodok Juni 1, 2008
Posted by antokida in Pemukiman.Tags: 1740, batavia, cina
add a comment
Peristiwa tragis pada tahun 1740 di Batavia berbuntut dilarangnya warga cina untuk tinggal di dalam Kota Batavia yang dikelilingi tembok dan parit pertahanan kota. Mereka yang masih tersisa kemudian diberi permukiman didaerah berawa dan perkebunan tebu di luar kota sebelah tenggara, diatas tanah milik Arya Glitok, seorang bangsawan asal Bali. Tempat itu kini populer dengan nama Glodok.
Pondok Cina Juni 1, 2008
Posted by antokida in Pemukiman.Tags: 1740, cina, depok
add a comment
Sebagian warga cina yang selamat dari pembantaian pada tahun 1740 di Kota Batavia menghindar dari Batavia kearah selatan, hingga mencapai kawasan Depok. Saat itu Depok sudah dihuni oleh 12 marga bekas budak Cornelis Chastelijn yang telah dimerdekakan. Warga cina ini ada yang menjadi tukang kredit ataupun pedagang keliling. Mereka boleh berdagang di Depok, namun hanya diizinkan siang hari. Mereka tidak diizinkan menginap di depok, karena masih dianggap kaum perusuh. Mereka harus meninggalkan Depok sebelum matahari terbenam. Namun mengingat jarak antara Depok dan Glodok (permukiman cina di luar kota Batavia, sebelah tenggara) yang begitu jauh, sementara kawasan itu masih berupa hutan belantara, maka kaum usiran ini lalu membuat pemondokan sementara di sebelah utara Depok. Lambat laun, hunian sementara ini berkembang menjadi hunian tetap. Dan hingga kini bekas tempat warga cina membuat pemondokan itu, masih dikenal dengan nama Pondok Cina.
Mauk Juni 1, 2008
Posted by antokida in Pemukiman.Tags: 1740, batavia, cina, tangerang
1 comment so far
Setelah pemberontakan cina pada tahun 1740, banyak orang cina di Batavia yang melarikan diri ke luar kota antara lain ke Tangerang. Mereka menetap di sebuah tempat di sebelah barat Tangerang, diatas tanah seorang warga cina pelarian yang bernama Ma Uk. Maka tempat itu hingga kini dikenal dengan nama Mauk.
Depok Juni 1, 2008
Posted by antokida in Pemukiman.Tags: chastelijn
add a comment
Pada tanggal 18 Mei 1696 seorang Belanda keturunan Perancis yang bernama Cornelis Chastelijn membeli tiga bidang tanah yang luas di sebelah selatan Batavia yang hanya bisa dicapai dengan melalui aliran sungai Ciliwung dan jalan setapak. Ketiga bidang tanah itu terletak di bilangan Mampang, Karanganyar dan Depok. Dalam tahun itu juga, ia mulai menekuni bidang pertanian di bilangan Seringsing (Serengseng).
Untuk menggarap lahan pertaniannya yang luas itu, ia mendatangkan budak dari Bali, Makassar, Nusa Tenggara Timur, maluku, Ternate, Kei, Jawa, Batavia, Pulau Rote dan Filipina. Semuanya berjumlah sekitar 120 orang. Atas permintaan ayahnya, ia menyebarkan agama Kristen kepada para budaknya. Perlahan muncul sebuah padepokan Kristiani yang disebut “De Eerste Protestante Organisatie van Kristenen”, disingkat DEPOK. Semboyan padepokan tersebut adalah “Deze Einheid Predikt Ons Kristus” yang juga disingkat DEPOK.
Dalam tahun 1871 pemerintah Hindia Belanda memutuskan menjadikan Depok pemerintahan sendiri. Sejak keputusan itu, Depok yang kala itu telah memiliki teritorial seluas 1.249 hektar diperintah oleh seorang residen sebagai badan pemerintahan depok tertinggi.
Depok kemudian menjadi sebuah kota kecamatan di lingkungan kewedanan Parung. Pada tahun 1935, Kawedanan Parung dihapus dan diganti menjadi Kawedanan Cibinong. Kemudian dibentuk Kawedanan Depok yang wilayahnya meliputi kecamatan Depok, Sawangan, Parung, Gunung Sindur dan Semplak.
Pada tahun 1976, kawasan Depok mulai dijadikan perumahan dengan hadirnya Perumnas I dan II. Dan di tahun 1981 Depok menjadi Kota Administratif (Kotif) membawahi kecamatan Pancoran Mas, Beji, Sukmajaya, Abadijaya serta terdiri dari 23 kelurahan dengan luas wilayah 6.794 hektar. Pada tanggal 27 April 1999 Depok resmi menjadi Kota dengan luas wilayah mencapai 20.029 hektar.